Terbit
1/8/2022
Diperbarui
13/8/2022

Borobudur Kini dan Impian Masa Depan

Keistimewaan dan pesona yang bisa kita nikmati tidak hanya dari candi, tapi tatanan kehidupan sekitarnya.
Foto: Unsplash
Ganjar Pranowo

AWAL April 2021 saya mampir di Dusun Pete, letaknya ada di punggung perbukitan Menoreh, Jawa Tengah. Di dusun itu, ada sanggar seni yang dikelola Rachel Harrison, perempuan Inggris yang disunting geolog asal Kabupaten Kudus.

Di sanggar sekaligus tempat tinggalnya itu, Rachel mengajarkan anak-anak kampung soal tari-tarian tradisional Jawa. Dari Tari Bedhaya, Beksan sampai Bambangan Cakil.

Kebetulan ketika saya mampir, anak-anak itu sedang latihan Tari Bambangan Cakil. Karena beberapa kali saya pernah diajari tarian ini, saya ikut nimbrung. Begitu ikut tiga empat lima gerakan, saya kaget, karena dari tempat saya menari itu terpampang jelas dihadapan saya Candi Borobudur.

Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya menari di punggung bukit dengan mata langsung memandang stupa-stupa candi paling eksotis di dunia itu. Dan, mau dilihat dari dekat maupun kejauhan,Borobudur itu sangat menenteramkan.

Pada kesempatan lain, saya sengaja sepedaan keliling kampung di sekitar candi. Saya juga pernah naik VW mengitari kampung satu ke kampung lain di kawasan itu. Sopir yang mengantarkan saya itu ternyata merangkap juga sebagai tour guide. Dia bisa menjelaskan dengan runtut perkembangan yang terjadi kehidupan di sekitar candi dari tahun ke tahun. Dari infrastruktur sampai tradisi masyarakat setempat.

Namun, yang membuat sopir itu heran, semua orang yang hidup di kawasan candi, apa pun profesinya, jadi semakin semangat. Entah itu yang jualan kopi, petani, pengrajin batik, maupun orang-orang yang “tidak bekerja”. Karena mereka itu sekarang bisa buka pondok wisata (homestay).

Untuk membuktikan ucapannya, sopir itu ngajak saya mampir di beberapa tempat yang diceritakannya. Di sana saya lihat mereka menyapa wisatawan seolah-olah kita ini saudara yang lama tidak ketemu.

Bagaimana tidak, begitu kita tiba di rumah pengrajin batik, misalnya, pemilik rumah langsung menyambut hangat, lalu ditawari mau minum apa. Begitu selesai minum, kami diajak keliling rumah dan dijelaskan satu per satu batik yang dibikin.

Jika penasaran, kita pun dipersilakan untuk membatik. Rasanya, kita benar-benar seperti pulang ke rumah di kampung halaman.

Begitulah, Borobudur saat ini.

Keistimewaandan pesona yang bisa kita nikmati bukan hanya berasal dari candi. Tapi, keseluruhan tatanan kehidupan sekaligus keelokan alam di kawasannya. Tapi, memang belum semua mimpi terwujud secara sempurna.

Makanya kita mengajak banyak elemen untuk turut nyengkuyung ide bahwa jika hendak wisata ke Borobudur, bukan cuma candi yang bisa kita nikmati. Masih banyak keindahan dan keeksotisan yang tersaji.

Betapa bahagianya saya ketika teman-teman Bank Jateng dan Kompas menyodorkan konsep Borobudur Marathon (Bomar). Event lari ini bukan hanya bicara soal olahraga, tapi juga pariwisata.

Jika pada mulanya sudah ada event seperti itu di Candi Borobudur, tapi tidaklah sebesar dan semeriah Bomar. Karena di Bomar bisa diikuti pelari dari berbagai level, dari yang sekadar senang-senang maupun dari pelari kelas atas dari penjuru dunia.

Bagi saya ini ide gila. Tapi, justru akan membuat gila jika tidak direalisasikan. Maka, begitu dibuka pada 2016, Bomar langsung diikuti 20 ribu peserta.

Tapi, saya pikir, event ini akan percuma saja jika manfaatnya tidak bisa merasuk ke masyarakat. Dari situlah, masyarakat kita dorong bikin homestay, buka usaha, sampai menghidupkan kembali kesenian-kesenian tradisi.

Benar saja, di tahun-tahun selanjutnya, semua gerakan masyarakat untuk nyengkuyung Bomar dengan menyiapkan homestay dan membuka berbagai usaha laris manis. Bahkan, pada 2019 perputaran uang dalam ajang itu lebih dari Rp 29 miliar.

Bomar telah jadi salah satu kekuatan untuk memajukan pengelolaan kawasan wisata Candi Borobudur. Saya sangat bersyukur ketika Presiden Joko Widodo akhirnya juga menetapkan Candi Borobudur sebagai destinasi wisata super prioritas.

Artinya, gayung pun bersambut. Kerja keras kita untuk serius menggarap Borobudur didukung penuh pemerintah pusat. Agar realisasi pengerjaan destinasi wisata super prioritas ini tidak meleset dari apa yang sudah kita upayakan selama ini, rapat lintas kementerian menyetuji saya sebagai “mandor proyek” ini.

Fokus proyek ini mencakup seluruh kawasan Borobudur. Bukan hanya pengerjaan fisik. Penggarapan destinasi wisata super prioritas ini juga mencakup pembangunan sosial budaya, kesenian, perekonomian, sport tourism bahkan virtual reality.

Total ada 13 perencanaan pembangunan yang dilakukan. Dari pembangunan community center, balai ekonomi desa (balkondes), pengolahan sampah, pasar seni, dan desa budaya. Bahkan, rumah-rumah warga juga bakal punya tampilan berbeda karena kita garap agar lebih estetik.

Untuk di dalam kawasan candi, nanti kita bisa keliling candi secara virtual reality. Acara pertunjukan juga bisa kita bikin di pelataran candi. Kan eksotis banget itu, kita bikin pertunjukan, entah itu musik, sendratari maupun peragaan busana dengan latar belakang stupa-stupa Candi Borobudur.

Bahkan, mimpi terbesar saya, bisa membuat Candi Borobudur jadi tujuan utama seluruh umat Buddha seluruh dunia, layaknya Mekkah bagi umat Islam.

Di sinilah, pentingnya terus menggelar acara berskala internasional di kawasan Borobudur. Termasuk juga Bomar ini, yang telah mengantar saudara-saudara merasakan kemegahan Borobudur secara tuntas.

Saudara lari, tapi mendapat suguhan kekayaan alam dan budaya masyarakat sekaligus merasakan langsung kemegahan candi terbesar di dunia ini. Memang, jika menggarap sesuatu dilakukan bareng-bareng, hasilnya akan membuat banyak orang jadi senang.

Terima kasih teman-teman dari Bank Jateng, Kompas,Yayasan Borobudur Marathon, pelari dan para pelancong. Mari tetap berlari sambil melancong.[]