Terbit
24/7/2022
Diperbarui
13/8/2022

Demi Laku Kepentingan Kemanusiaan

Kita harus mengejar. Langkah-langkah taktis harus kita lahirkan. Kita bekali seluruh generasi muda.
Foto: freepik.com
Ganjar Pranowo

LIMA puluh delapan tahun silam, Presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sukarno, telah mewanti-wanti agar negara kita berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam berkebudayaan.

Jika intisari Pancasila adalah gotong royong, maka Trisakti mimiliki inti, berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri.

Apakah dalam kurun waktu 58 tahun itu kita sudah mengimplementasikan wasiat itu? Ternyata masih sangat jauh panggang dari api.

Pandemi telah membuka lebar-lebar wajah negara kita. Masker kita tak punya, produksi hazmat kurang, ventilator tak bisa produksi sendiri. Belum lagi soal obat-obatan, vaksin sampai reagen.

Apakah persoalan pandemi cuma di sektor kesehatan? Tidak. Karena kita juga kewalahan mengelola stok pangan, jaring sosial, keamanan sampai pemerintahan. Semua shock.

Dari anak-anak sampai orang tua. Dari pengangguran sampai kaum profesional. Semua hanya bisa menerka-nerka, semua bicara antara ketakutan dan kegamangan.

Saat ini mungkin kita bisa sedikit bernapas lega karena untuk sektor kesehatan, satu per satu efek pandemi sudah terselesaikan. Tapi, pada soal lain, soal pangan dan energi krisisnya merambah seluruh negara di dunia.

Kita yang sekarang memegang tanggung jawab, baik itu karena profesi maupun jabatan, menjadi penunjuk arah ke mana manusia mesti berjalan.

Ini bukan sekadar perkara politik. Bukan pula sekadar perkara kesehatan maupun sosial. Ini adalah persoalan kehidupan. Maka, laku kita hari ini adalah demi kepentingan kemanusiaan.

Ada 30,83 juta anak-anak di belakang kita. Ada 110 juta pemuda di kanan-kiri kita. Ada masa depan yang mesti mereka perjuangkan.

Jika kita yang saat ini memegang obor penunjuk jalan salah arah, saya tidak tahu, apakah akan ada kata maaf untuk kita.

Saudara sekalian. Mulai hari ini, tidak ada kata lain. Mari bekerja sebaik-baiknya. Kita jaga harga diri sehormat-hormatnya. Capek tidak masalah. Stres biarkanlah. Asal negara kita bisa mencapai berdikari dan berkeadilan. Banyak cara bisa kita lakukan.

Namun, ilmuwan harus jadi garda terdepan untuk memeriksa keadaan, bagaimana negara ini dijalankan. Sudah cukup kita selama ini tertinggal dalam hal intelektual.

Jangan sampai berlanjut lagi. Kita harus mengejar. Langkah-langkah taktis harus kita lahirkan. Kita bekali seluruh generasi muda sebaik-baiknya.

Jika di perguruan tinggi dalam negeri tidak cukup, kita kirim mereka ke mancanegara. Saudara kita yang jadi intelektual di luar, juga mesti kita optimalkan perannya.

Kita beri ruang dan apreasiasi setinggi-tingginya. Yakinlah, dari situ akan memberi manfaat untuk seluruh rakyat Indonesia. Terima kasih.[]