Terbit
9/9/2022
Diperbarui
9/9/2022

Madu-madu Aklis Pun “Terbang” ke Pulau Seberang

Meski mengalami kemajuan, Aklis yang melibatkan dua teman spesialis, yaitu pemburu dan petani lebah, lantas tak berpuas diri.
Foto-foto: Ganjarpranowo.com

MEDIA sosial menjadi salah satu media promosi yang diakrabi Aklis Nurdiansyah ketika merintis bisnis madu pada 2019. Ia mengoptimalkan promosi merek “Wijaya Madu Borobudur” melalui Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

Hanya, kala itu merek madunya sebatas diketahui oleh konsumen di sekitar daerah Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Di tahun berikutnya, datanglah pandemi Covid-19 yang mempengaruhi usahanya. Guna mendongkrak penjualan, Aklis pun ikut program #LapakGanjar yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pertengahan 2020.

#LapakGanjar sengaja dibuat Ganjar Pranowo untuk mendukung agar pelaku UMKM bertahan hidup di masa pandemi. Ganjar menggunakan akun Instagram-nya untuk bantu promosi.

Dengan jumlah pengikut (follower) mencapai jutaan, harapannya produk UMKM bisa dikenal luas dan dibeli masyarakat. Secara luas, ekonomi masyarakat pun diharapkan bisa bergeliat meski di masa sulit.

Kebetulan madu kala itu banyak diminati orang untuk mendukung daya tahan tubuh. Aklis mengirimkan produknya ke Ganjar Pranowo dan akhirnya terpilih untuk dibagikan di Instagram Story.

Tak disangka-sangka, efek unggahan itu begitu luar biasa. Madu-madunya tak hanya dikenal oleh pelanggan sekitar Magelang, tapi sampai ke pulai seberang, seperti Sumatera, Kalimantan, Batam, dan Papua.

“Bahkan, ada salah seorang pengusaha di Magelang yang membawa produk madunya untuk dijual di Swiss dan Belanda," ujar Aklis ditemui di rumahnya Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, awal 2022.

Sejak dipromosikan oleh Ganjar, orderan makin bertambah dan Aklis sempat kewalahan memenuhi permintaan konsumen. "Pernah kami setop (pengiriman) karena karena stok terbatas, sedangkan permintaan banyak," tutur dia.

Kini Aklis mampu menjual 40 botol sehari; terjadi lonjakan permintaan dari sebelumnya baru 10 botol sehari. Meski mengalami kemajuan, Aklis yang melibatkan dua teman spesialis, yaitu pemburu dan petani lebah, lantas tak berpuas diri.

Ia tetap menjaga kualitas madu, caranya ialah, “Lebah ini kami taruh di Bukit Menoreh (sebuah perbukitan di Magelang) sehingga masih bisa menyerap sari-sari bunga alami," terangnya.

Aklis mengaku sangat berterima kasih pada Ganjar Pranowo yang telah membantu dirinya serta banyak UMKM lainnya agar lebih maju. Bahkan, promosi ini tak hanya untuk pelaku usaha di Jateng, tapi seluruh Indonesia.

"Di tengah kesibukannya, Pak Ganjar masih peduli kepada UMKM kecil," ujarnya.[]