Terbit
29/12/2023
Diperbarui
29/12/2023

Pemimpin Mendengarkan Langsung Suara Rakyat dan Berkeringat Bersama Rakyat

2024 akan menjadi sebuah tonggak sejarah untuk menyongsong tatanan Indonesia yang lebih adil dan diperjuangkan oleh pemimpin yang mendengarkan langsung suara rakyat.

Dunia sedang menghadapi krisis iklim yang mengancam kehidupan kita semua.

Oleh karena itu, ke depan semua potensi alam Indonesia harus dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Namun, juga tetap dengan menjaga kelestarian alam untuk generasi selanjutnya.

Memajukan perekonomian memang menjadi satu syarat utama yang harus dimiliki dan cita-cita itu bisa diwujudkan melalui pembangunan ekonomi baru yang diharapkan, yaitu ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi digital.

Maka, tahun 2024 akan menjadi sebuah tonggak sejarah untuk menyongsong tatanan Indonesia yang lebih adil dan diperjuangkan oleh pemimpin yang mendengarkan langsung suara rakyat.

Pemimpin yang mau berkeringat bersama rakyat, pemimpin yang mau betul-betul merasakan penderitaan rakyat.

Indonesia yang kaya sumber daya alam ini harus dipimpin seseorang yang siap menjalankan peran sebagai pemimpin.

Dia bukan hanya diharapkan memiliki kebijaksanaan politik, tetapi juga harus menguasai tindakan pengendalian diri yang menjadi dasar kepemimpinan yang kokoh.

Sebagai pemimpin, dia diwajibkan memiliki sifat yang kokoh seperti bumi yang menjadi pijakan.

Dia harus bersedia diinjak-injak oleh rakyat, menyadari bahwa mereka adalah tuannya, dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberikan fondasi yang stabil.

Pemimpin yang mencerminkan sifat matahari, memberikan energi dan semangat kepada rakyat, sifat bulan yang membawa ketentraman, dan sifat bintang yang menjadi penunjuk arah.

Sebagaimana langit yang menaungi, pemimpin harus memiliki pengetahuan luas untuk mewujudkan cita-cita Indonesia emas di tahun 2045 mendatang.

Sifat angin yang bisa mempengaruhi, juga harus dimiliki seorang pemimpin.

Pemimpin,juga harus berani dan adil dan bisa menjadi hilir yang menerima semua air yang mengalir padanya.

Dalam menghadapi protes, bully, atau permintaan tolong, seorang pemimpinharus tetap menjadi muara dan samudera.

Seperti konsep "jembar dhodho" dari tradisi Jawa menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki hati yang lapang, menerima dengan sabar, tanpa terpengaruh oleh caci maki atau pujian.

Pemimpin bukanlah malaikat yang sempurna, tetapi dia memiliki tanggung jawab untuk memberikan optimisme.

Mendengarkan suara rakyat, bersama-sama berkeringat, dan merasakan penderitaan mereka adalah kunci dalam kepemimpinan yang responsif.

Integritas, anti-korupsi, dan pelayanan yang mudah, murah, cepat, dan adil adalah prinsip yang harus dipegang teguh seorang pemimpin yang tulus.

Dengan sepenuh hati, dia bekerja untuk kepentingan rakyatnya, membawa harapan,kemajuan, dan keadilan bagi negeri yang dicintainya.